Duplicated - Judul Contoh Cerita A Maksimal Dua Line Jika Lebih Truncate
Sub Judul Contoh
Ringkasan cerita max 55 kata
Dalam tuturan Immanuel Pele, terkisahkan riwayat Kerajaan Raba yang berkedudukan di Pekurehua. Mewujud sebagai pintu masuk, kisah ini mengantarkan pada perjalanan seorang panglima kekaisaran Mongol dari kaisar Kubilai Khan, penamaan terhadap wilayah yang panglima itu sambangi, lalu merambat pada banyak sekali hal berlatarkan tanah Napu sebagai porosnya. Apa yang dibahas dan bagaimana itu disampaikan memberikan kita gambaran betapa tradisi bertutur memiliki strategi artistik dalam produksi pengetahuan dengan cara yang unik dan kaya, bahwa mendengarkan seorang bapak tua bercerita tentang dunia yang ia ketahui sungguhlah sebuah keberkahan. Menutup sesi penceritaanya, bapak Immanuel Pele menerangkan harapannya agar apa yang dapat dipetik dari tuturannya, mampu menjadi bahan untuk membangun bersama di tanah air Indonesia.
“Menutup sesi penceritaanya, bapak Immanuel Pele menerangkan harapannya agar apa yang dapat dipetik dari tuturannya, mampu menjadi bahan untuk membangun bersama di tanah air Indonesia”.
Pada zaman dahulu, berdirilah sebuah kerajaan bernama Raba. Kerajaan itu dipimpin oleh raja bernama Raba. Wilayah kerajaan tersebut berada di sebuah gunung, tetapi karena pergeseran lempeng bumi, gunung itu pun runtuh. Raba diambil dari istilah Nara Banga, bahasa Pekurehua yang berarti gunung. Salah satu riwayat hidup sang raja adalah ketika ia melakukan penjelajahan hingga sampai ke Gowa, perjalanan ini berhubungan dengan keberadaan jagung yang ada di Pekurehua. Ketika pulang dari sana, raja Raba membawa benih yang selanjutnya ditanam di wilayahnya. Hasil panennya digunakan untuk makanan babi dan ayam, hasilnya bagus, ternak menjadi gemuk. Lalu menjadi makanan orang-orang di sana, yang diberi nama gogoa, diambil dari nama di mana benih jagung tersebut diperoleh.
Tokoh penceritaan beralih pada keturunan Raja Raba. Diceritakan bahwa anak dari raja Raba bernama Datung Tamolo, memiliki tiga anak laki-laki. Yang pertama Watutahu, ia ahli perang dan memiliki ilmu gaib tinggi. Anak kedua bernama Watu Tembaga yang memiliki derajat kebangsawanan yang tinggi dan pergi menetap di Luwu, ketika terluka, darah yang keluar dari tubuhnya berwarna biru. Lalu, anak ketiga bernama Watu Wali dan hidup menetap di Kulawi. Selanjutnya, Watu Tembaga yang menetap dan menjadi raja di Luwu, memiliki anak bernama Rebeta dan memiliki julukan Topo Puasa yang memilih untuk tinggal di tanah kerajaan Raba. Diberi julukan demikian karena setiap bulan puasa, ia akan berpuasa. Selanjut-selanjutnya, disebutkan keturunan-keturunan raja Raba yang diketahui hidup pada masa sekarang, yakni: Longki, Ragi, Kabi, dan masih banyak lagi. Keturunannya diketahui tidak memakan daging babi karena leluhur mereka juga mempraktikkan aktivitas tersebut.
Lalu kisah berfokus pada seorang panglima di bawah kepemimpinan kaisar Kubilai Khan. Panglima dan pasukannya melakukan perjalanan dan memilih beristirahat di sekitar sungai Gumbasa, perjalanan ini dilakukan pada masa pemerintahan raja Raba, ia melihat kejadian di mana ombak laut bertemu dengan arus sungai, kemudian bertanya, dalam bahasa Raba disebut apakah peristiwa yang saya saksikan ini? Dijawab oleh masyarakat Raba, Nombe Palu Bakutoki. Mulai dari sanalah, nama Palu perlahan disebut untuk mengindentifikasi wilayah yang ia singgahi. Diketahui bahwa, wilayah tersebut dulunya bernama Lemba yang berarti lembah. Palu belum lazim disebut sebelum tahun 1800-an.
Panglima dan prajuritnya pun melanjutkan perjalanan ke wilayah timur, meraka sampai pada sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, dinamakan danau Tobaraka sebab raksasa menempati wilayah tersebut. Lalu, panglima kembali bertanya, dalam bahasa Raba disebut apakah air yang tenang seperti tidak memiliki ombak? Dijawab oleh masyarakat Raba, lindu, yang berarti rata. Lindu yang rata tanahnya dan tenang airnya. Maka berubahlah sebutan danau Tobaraka menjadi danau lindu.
Kemudian, panglima dan prajuritnya melanjutkan perjalanan ke arah timur yang sedikit condong ke selatan. Tibalah mereka ke tanah kerajaan Raba. Namun, tak ada seorang manusia pun yang terlihat, ke mana mereka mesti meminta makanan, jika manusia pun tak ada? Memang tak ada manusia, tapi entah kenapa seperti ada bau manusia yang tercium. Mereka mengerahkan anjing untuk mencari jejak, dan ketika bertemu burung puriuh, anjing itu berhasil menangkapnya. Setelah burung tersebut berhasil ditangkap, terlihatlah sebuah istana dan tempat mandi raja. Rupanya, kesaktian raja Raba mampu menutupi keberadaan kerajaan dan orang-orang di wilayahnya dari mata pendatang. Lalu, panglima membawa burung itu ke kerajaan Raba dan kembali bertanya. dalam bahasa Raba disebut apakah binatang ini? Dijawab oleh masyarakat Raba, Kureu. Mulai saat itulah Raba disebut menjadi Pekurehua, yakni tempat menangkap burung Kureu
Panglima bertemu dengan raja Raba, ia meminta agar dinikahkan dengan putri sang raja. Raja membolehkan dengan memberikan syarat, yakni ia harus mengadakan 100 ekor kerbau uang memiliki bulu, tanduk, dan bentuk yang sama. Selama tujuh hari, panglima itu merapalkan mantra agar berhasil memenuhi syarat sang raja. Di hari ketujuh ia menggiring 100 ekor kerbau dengan bulu, tanduk, dan bentuk yang sama ke hadapan raja Raba. Melihat itu, raja mengakui kesaktian sang panglima. Namun, ketika syarat kedua dilontarkan, ia tak mampu membendung kekuatan raja. Ia diminta agar 100 kerbau tersebut harus berada di tempat yang sama hingga tiga hari kemudian. Kerbau itu jangan sampai hilang, sebab jika demikian, perjanjian perkawinan akan dibatalkan. Maka, panglima mesti merapalkan mantra kembali. Dengan kata lain, saling beradu mantra dengan raja. Tiga hari pun berlalu, ternyata, bahkan bau kerbau pun tak tercium sama sekali. Mantra sang panglima tunduk di hadapan mantra sang raja. Ia mesti melanjutkan perjalanan dengan membawa kekecewaan.
Panglima dan prajuritnya melanjutkan perjalanan ke wilayah Ngamba yang kini disebut sebagai Behoa. Dalam bahasa Raba, Ngamba berarti dataran yang berada di puncak, di daerah ketinggian. Mereka tiba di kampung bernama Doda, dan di sana melihat remaja yang sedang membelah kayu. Lalu, panglima kembali bertanya, dalam bahasa Raba disebut apakah aktivitas itu? Dijawab oleh masyarakat di sana, Mau Beho, yang berarti membelah kayu. Maka bergantilah nama desa tersebut menjadi Po Behoa, tempat membelah kayu, yang istilahnya digunakan hingga sekarang.
Dalam kisah perjalanan ini, disampaikan bagaimana masyarakat Lore mulai mengetahui khasiat yang terkandung dalam kunyit. Setelah mengetahui kunyit adalah obat, mereka pun membudidayakan tanaman itu. Dan begitulah cerita penjelajahan panglima dan prajurit Kekaisaran Mongolia ke wilayah Kerajaan Raba di tanah Pekurehua. Selain itu, diyakini alasan mengapa kecantikan perempuan di tanah ini begitu berbeda, sebab merupakan turunan dari orang-orang Mongolia tersebut–seperti istri sang panglima yang berasal dari Bada.