Kembali ke Cerita
Placeholder Untuk Judul Tema

Hikayat Air yang Keruh di Tongko

Sandada, Tojo Una-Una

Hikayat Air yang Keruh di Tongko
Narasumber
Harun. H. Nangoyo a.ka Papa Hisam
Wilayah
Tojo Una-Una
Bahasa
Campuran
Tema
Placeholder Untuk Judul Tema
Durasi
60:00

Alkisah hiduplah dua pendekar bersaudara. Masing-masing mereka bernama Tanguni dan Sandopodada. Tanguni terkenal dengan kepiawainnya bermain parang. Sementara Sandopodada memiliki aji tak termakan senjata. Sandopodada jua bertubuh tinggi besar. Hal-hal semacam itu nampaknya diperlukan sebab mereka hidup pada suatu masa ketika masyarakat masih terpisah-pisah dalam kelompok kecil. Bukan berita mengagetkan pada masa itu bila mendengar satu komunitas menyerbu komunitas lain. Masyarakat Ndee menyebut perang semacam ini dengan ‘Mombetoto’. Suatu waktu, ketika tengah memanjat pinang di daerah Ntojo, kampung lama orang-orang Ndee, Tanguni berjumpa dengan musuh yang segera saja mengejarnya. Musuh-musuh itu menebang pohon pinang tempat Tanguni berada. Beruntung dengan kemampuannya, sang pendekar ini mampu melompat dari satu pohon pinang ke pohon pinang yang lain. Namun hal itu tidak menyurutkan niat musuh untuk menghabisinya. Mereka terus memburu Tanguni hingga ia tak lagi menemukan pohon pinang untuk berlindung. Maka kaki Tanguni pun mesti menjejak tanah. Dalam ketergesaan, Tanguni segera mencabut pedangnya. Tatkala telah terkepung, Tanguni mengibaskan pedangnya pada sebatang pohon enau yang langsung saja terbelah. Sontak itu membuat musuh-musuh yang mengejar Tanguni terbelalak kaget. Sesaat keheningan menyergap, orang-orang itu berhitung dan pada akhirnya mereka memutuskan mundur. Penyerangan terhadap Tanguni rupanya sampai di telinga saudaranya, Sandopodada. Ia segera berangkat menemui Tanguni serta merencanakan serangan balik. Orang-orang itu pasti belum pergi terlalu jauh. Rupanya, kekuatan Tanguni dan Sandopodada amatlah luar biasa -bahkan pada titik tertentu dapat dikatakan destruktif. Betapa tidak? Dalam proses serangan balik itu, dua pendekar ini menghancurkan semua yang mereka temui. Pelacakan jejak mengarahkan kakak-beradik ini ke darah Tongko. Ternyata musuh-musuh yang tadi berlari telah merencanakan penyergapan di wilayah itu. Maka terjadilah pertempuran habis-habisan di sana. Kekuatan tebasan Tanguni dan kesaktian Sandopodada membuat darah mengucur dari pihak lawan mereka. Keduanya berdiri menghadapi, menangkis, dan membalas serangan demi serangan tanpa mundur sedikit pun. Namun dalam perang, semua hal bisa terjadi. Seperti semua hal di muka bumi, kesaktian pun rupanya memiliki batas. Tanguni jatuh dan tertangkap. Entah serangan siapa yang mengenainya, Sandopodada terkejut melihat saudaranya telah terkapar bersimbah darah. Rasa kehilangan segera saja menguasai Sandopadada, dan itu membuatnya kehilangan semangat bertempur. Ia tidak lagi menangkis dan membalas serangan apa pun. Namun ajiannya juga membuatnya tetap terjaga dari tikaman, tebasan, atau juga hujaman tombak. Musuh-musuh itu pun memutuskan membawa Sandopodada yang diam membisu tak melawan. Dalam keadaan itu ia pun diserang berkali-kali, disiksa sedemikian rupa, namun kesaktiannya membuat ia kebal dan seolah tiada apapun terjadi pada tubuhnya itu. Keadaan itu tentu membuat musuh-musuh mereka semakin bernafsu ingin menghabisi Sandopodada. Namun sang pendekar itu bergeming. Mungkin ia bahkan memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dan melawan balik. Namun kesedihan akibat kematian Tanguni membuat Sandopodada menyerah pada hidup. Ia pun membocorkan rahasia kekuatannya pada musuh-musuhnya, “Kalau kalian benar-benar ingin membunuhku, kelemahan ajianku terletak di ibu jari kaki.” Tidak pakai lama, musuh-musuh itu segera saja menyerang kelemahan Sandopodada. Pendekar itu pun tewas di sana. Namun, peristiwa di Tongko itu rupanya demikian dahsyat. Darah Tanguni, Sandopodada, dan banyak musuh yang mereka habisi rupanya mengalir hingga mengeruhkan warna air sungai di Tongko. Masyarakat Ndee percaya, sejak saat itulah air di Tongko tidak pernah lagi jernih. Sampai hari ini, mereka menyebut Tongko sebagai ‘tampa posipepateantau’, tempat saling menebas dan saling membunuh.[*]

Dikisahkan oleh Harun. H. Nangoyo a.k.a Papa Hisam & Raman Nangoyo a.k.a Papa Aan

Sandada, Tojo, Tojo Una-Una. 3 Juni 2025